November 16, 2010

Perjuangan Aung San Suu Kyi

Terletak di tepi Danau Inya, hijau dedaunan mengelilingi rumah yang berada di Yangoon, Myanmar, itu. Dari sinilah Aung San Suu Kyi mengirim pesan ke seluruh dunia tentang carut marut demokrasi negerinya di bawah junta militer.

Perjuangan perempuan 65 tahun itu memang dibayar mahal. Di rumahnya, pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi) itu menjadi tawanan pemerintahan totaliter Myanmar. Di sinilah dia menghabiskan hampir sepertiga hidupnya sebagai tahanan rumah.

Akhirnya, kabar baik itu datang pada sabtu 13 November 2010. Junta militer membebaskan Suu Kyi. Dia muncul di pagar kompleks rumahnya dan melambaikan tangan ke arah pendukungnya yang sedang bersorak gembira menyambut kekebasannya. Mereka datang ke sini sejak beberapa hari sebelumnya.

Kegembiraan itu tak hanya milik Myanmar. Seluruh dunia senang dengan kabar kebebasan Suu Kyi. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa Ban Ki-moon, serta para pejabat tinggi PBB, menyambut baik pembebasan pemimpin demokrasi ini.

"Kemuliaan dan keberaniannya menghadapi ketidakadilan telah memberikan inspirasi kepada banyak orang di dunia," kata Ban dalam pernyataan yang dikeluarkan Markas Besar PBB, New York, Sabtu 13 November 2010.

Presiden Amerika Barack Obama menyebutkan Amerika juga menyambut kebebasan Suu Kyi. "Ia juga menjadi pahlawan saya dan sumber ilham bagi yang terus berjuang demi memajukan hak asasi manusia di Burma (Myanmar) dan di seluruh dunia," kata Obama.

Menyusul bebasnya Suu Kyi, Komite Nobel Norwegia juga mengundang penerima hadiah perdamaian itu ke Oslo. Soalnya, junta Myanmar mencegah Suu Kyi untuk mengambil hadiahnya pada 1991.

Perjuangan Suu Kyi memang bergetar ke seluruh dunia.

***

Dulu daerah itu disebut Rangoon, kini Yangon. Suu Kyi lahir di sini pada 19 Juni 1945. Ayahnya, Aung San, adalah seorang pahlawan nasional. Dialah yang merundingkan kemerdekaan dari Inggris pada 1947. Namun dua tahun berselang dia dibunuh lawan politiknya. Itulah sebabnya, Suu Kyi hanya mengenal ayahnya lewat cerita ibunya, Khin Kyi, juga dari sejumlah buku yang dibacanya.

Ibunyalah yang banyak berperan dalam hidup Suu Kyi dan dua kakaknya Aung San U dan Aung San Lin. Menghabiskan masa kecilnya di Myanmar, hingga kemudian pemerintah menunjuk Khin Kyi menjadi duta besar Burma di India pada 1960.

Setelah lulus dari Lady Shri Ram College di New Delhi, India pada 1964, Suu Kyi melanjutkan pendidikannya di St Hugh's College, Oxford, Inggris. Pada 1972, Aung San Suu Kyi menikah dengan Dr. Michael Aris, seorang pelajar kebudayaan Tibet berkebangsaan Inggris. Dari perkawinan ini dia memiliki dua putra, Alexander (1973) dan Kim (1977).

Dia tinggal bersama suaminya di Oxford, hingga kemudian dia mendapat telepon dari kampungnya pada Maret 1988, membawa kabar bahwa ibunya terkena stroke. Sejak itulah Suu Kyi berada di Yangoon. Bahkan setelah ibunya meninggal pun, Suu Kyi tak pernah beranjak dari sana. Dia melihat langsung beragam peristiwa penting di negerinya.

Misalnya saat mahasiswa yang turun ke jalan menuntut perubahan yang melahirkan insiden 41 orang mahasiswa terluka dan mati lemas di dalam mobil van polisi. Pada 23 juli 1988, Jenderal Purnawirawan Ne Win --yang mendalangi kudeta militer pada 1962-- mengumumkan kongres luar biasa Partai Program Sosialis Burma. Dia mengundurkan diri.

Di titik inilah Suu Kyi mulai terlibat dalam politik di negerinya. Apalagi ternyata partainya Ne Win –kongres tadi dimaksudkan untruk referendum Burma-- menolak referendum. Rumah Suu Kyi pun menjadi pusat aktivitas politik kelompok yang mendukung Suu Kyi.

Hingga kemudian Suu Kyi menggerakkan unjuk rasa besar-besaran di Pagoda Shwedagon untuk pertama kalinya pada 26 Agustus 1988. Kemudian berlanjut dengan beragam unjuk rasa yang selalu berakhir dengan darah. Semua gerakan ini adalah untuk memperjuangkan demokrasi di Myanmar.

Tiga kepala pemerintahan dipaksa massa mengundurkan diri. Hingga kemudian negara berada di bawah Dewan Hukum Negara dan Pemulihan Ketenteraman (SLORC). Militer berjanji menyelenggarakan pemilihan umum yang bebas dan adil.

Itulah sebabnya, Suu Kyi dan kelompoknya membentuk partai Liga Nasional Demokrasi (LND) yang memenangkan pemilihan umum pada 27 Mei 1990. Kemenangan Partai Liga Nasional Demokrasi luar biasa, merebut 392 dari 485 kursi.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Kemenangan ini tak diakui. Bahkan Suu Kyi ditawan pemerintah junta militer dan dia pun menjadi perhatian dunia.

***

"Sesungguhnya bukan kekuasaan yang menciptakan kebejatan, tapi ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang biasa memilikinya. Rasa takut diungguli orang lain atau takut terhina telah menjadi pendorong maksud-maksud jahat.

"Akan sulit menghalau kebodohan kecuali ada kebebasan untuk mencari kebenaran tanpa belenggu rasa takut. Begitu dekatnya batas antara rasa takut dan kebejatan sehingga tidak mengherankan jika kebejatan tersebar dengan luas di segala macam masyarakat."

Dua alinea itu menjadi pembuka esai tentang kemerdekaan karya Suu Kyi. Ditulisnya untuk dibacakan pada penerimaan Hadiah Shakarov yang dimenangkannya pada 1990. Dia tak bisa menghadiri acara ini sebab posisinya sebagai tawanan junta militer. Dalam esainya itu dia bercerita negerinya yang tanpa demokrasi.

Sebab memperjuangkan dan mempromosikan demokrasi di negerinya pula, Suu Kyi memperoleh penghargaan perdamaian Nobel pada 1991. Dia berjuang tanpa kekerasan dan menentang rezim militer. Ketika memenangkan Nobel, Suu Kyi masih berstatus tahanan rumah. Sehingga, dua putranyalah yang datang menggantikan ibunya untuk menerima penghargaan itu di Norwegia.

John William Yeattaw menunjukkan kepada aparat Myanmar, 28 Mei 2009, bagaimana ia menerobos ke kediaman Suu Kyi setelah berenang menyeberangi danau.

Sejatinya, penahanan Suu Kyi berakhir pada 27 Mei 2009. Namun dua pekan sebelumnya terjadi sebuah insiden aneh. Surat kabar resmi New Light of Myanmar, bahwa seorang Amerika yang diidentifikasi sebagai John William Yeattaw berenang di danau Inya di belakang rumah Suu Kyi.

Junta militer menjadikan insiden itu sebagai masa perpanjangan penahanan Suu Kyi hingga 13 November 2010. Dia bebas sepekan setelah pemilihan umum berakhir...

No comments:

Post a Comment