September 27, 2010

Mengenal Salah Satu Band Kota Medan Yang Berkualitas, "Hairdresser On Fire!"

Satu-dua tahun belakangan, sejauh pengamatan saya, scene musik kota Medan benar-benar menunjukkan geliat positif dan progresi yang cukup menjanjikan. Bakat-bakat yang memainkan musik tak terkira dari kota tersebut, secara perlahan namun pasti, kini, banyak dengan tanpa ragu-ragu mulai memperkenalkan diri dan pede untuk unjuk gigi ke muka publik seolah berteriak lantang: “Hei, kami berbeda!”. Mereka-mereka inilah yang kemudian lebih menarik perhatian ketimbang keluaran genre “tuan rumah” yang selama ini selalu merajai.

Bila merujuk pada histori menahun produk musik dari kota ‘keras’ ini yang keluarannya selalu pula ‘keras’—keras dalam artian sebenar-benarnya memaknai musik ekstrim lazim-populer untuk konteks kekinian (baca: cadas)—tanpa bumbu baru dan beda, apalagi segar, band di luar ranah tersebut bisa dibilang tak ada yang bergigi. Jikapun ada umurnya tak akan lama. Tidak cukup tahan banting mungkin begitu.

Menurut salah seorang pegiat arus musik lokal di sana, hal tersebut terjadi bukan lantaran tidak adanya alternatif pilihan untuk musik-musik lain selain pengusung tarekat ‘cadaseisme’ yang telah menjadi ciri itu, melainkan karena tenggelamnya bakat-bakat lain yang tak memiliki massa seloyal massa band-band cadas yang umumnya banyak beredar. Imej Medan adalah cadas. Jika tidak cadas berarti tidak Medan. Dan ungkapan ini seolah memunculkan dominasi yang membuat kebanyakan talenta-talenta musik yang tak berkarakter ‘Medan’ tidak leluasa muncul dan menampakkan diri.

Namun lain dulu lain kini. Kebosanan yang menggumpal akan asupan musik yang itu-itu saja membuat banyak insan muda kota ini mulai berani menyentuh wilayah lain yang sedikit lebih ramah dengan tetap tidak melepaskan nuansa ‘keras’-nya, namun tidak pula terjebak pada pola musik ‘keras’ seragam yang ada atau malah cenderung menjadi tipikal. Bakat-bakat baru yang muncul ini justru berhasil menemukan formula dan meracik bumbu musikalnya hingga menjadi produk keluaran yang lebih segar untuk iklim musik kota Medan yang sudah terbentuk sejak lama.

Dan Hairdresser On Fire (HOF) adalah salah satu di antaranya yang mungkin cukup menjanjikan. Band ini terbentuk pada Agustus 2006 dengan member sebagai berikut: Embun (vokal), Cunin (gitar), Ican (gitar), Reza (bass), dan Andrie (drum). Pada 2009, mereka sempat mengikuti sebuah festival indie berskala nasional yang cukup populer di tanah air. Walau tak lolos untuk kemudian lagunya dikompilasikan, dan terpaksa harus puas dengan hanya menyandang predikat finalis, kuintet pengusung kombinasi musik punk rock/post punk/indie rock/art punk ini tetap menuai ragam puji dan apresiasi dari berbagai pihak dengan karya-karyanya yang berkeliar bebas di jagat maya.

Siapa sangka, Bionic Woman, salah satu materi raw demo yang mereka layangkan di myspace mampu memikat penyiar NME Radio (UK) untuk kemudian memutarkan lagu ini pada salah satu program acara radionya. Atau yang lain, ketika HOF dinominasikan masuk sebagai salah satu “The Best International Act in 2010” oleh Recharged Radio (UK), ternyata mereka berhasil menyabet penghargaan tersebut. Belum lagi bila ditambah dengan apresiasi dari media lokal-nasional dan pula “jurnalis internet” yang memberi berbagai komentar positif atas keberadaan band yang mendapat pengaruh musikal dari The Long Blondes, Lady Fuzz, Yeah Yeah Yeahs, The Stone Roses, Bloc Party, Charlatans, dan Le Tigre ini.

Sebagai sebuah band yang mencoba bermain jujur dengan musik yang diusungnya, kesemua apresiasi tersebut, menurut pengakuan mereka diperoleh tanpa ekspektasi macam-macam. Semua didapat begitu saja. “We’re just some lucky bastard,” ungkap Embun, sang vokalis, yang pernyataannya saya kutip dari siaran pers debut EP mereka yang mana baru akan diluncurkan beberapa hari ke depan.

Ini bisa dikatakan adalah sebuah pencapaian dari kerja keras masing-masing personilnya selama kurun waktu 4 tahun. HOF seolah ingin memberi bukti bahwa hasil dari jerih payahnya layak diperhitungkan di kancah musik sidestream lokal-nasional. Dan Live From Morgue, tajuk yang mereka beri untuk rilisan debut ini bisa jadi adalah wujud pernyataan sikap mereka akan hal itu.

Rilisan perdana HOF yang mini ini sekiranya akan diedarkan secara cuma-cuma via dunia maya pada Kamis, 09/09/2010 dan dapat diunduh melalui tautan yang tersedia di http://livefrommorgue.tumblr.com.

Tiga lagu telah disiapkan untuk rilisan yang sebenarnya dijadikan teaser bagi debut LP HOF yang akan dirilis kemudian. Lagu-lagu yang ada disuguhkan dengan atmosfer sound yang lo-fi dan raw dan direkam secara live guna mendapatkan energi kasar-orisinal yang telah menjadi ciri musikal mereka sejauh ini.

Satu dari tiga lagu yang ditawarkan, tersisip lagu cover version milik band garage-rock Medan, The Cangis, dengan judul cukup memikat, Tempayan Meradang. Lagu ini mengetengahkan cerita tentang jalan hidup yang stagnan akibat terlalu banyaknya cita-cita. HOF mengaku sangat mengidolakan band tersebut. Dan Tempayan Meradang yang diaransemen ulang dengan pendekatan musikal Hairdresser On Fire dalam EP ini adalah sebuah tribut untuk The Cangis.

Dalam Live From Morgue, HOF juga tak tampil sendiri. Mereka menggandeng salah seorang seniman visual asal Medan bernama Kim Young Ha untuk diajak berkolaborasi. Kim diminta untuk memvisualisasikan lagu-lagu HOF. Setiap track yang ada, nantinya akan mendapat suguhan visual dari karya Kim yang memiliki visi segaris dengan HOF, di mana ia juga menggunakan animasi sebagai medium untuk menjelaskan ide-ide terkait dengan manusia (sebagai catatan: manusia merupakan tema besar yang diangkat HOF dalam lagu-lagunya di EP ini).

Jika Anda penasaran dan tak bisa bersabar, sebelum benar-benar dapat mendengarkan materi live dari Live From Morgue yang baru akan beredar beberapa hari lagi itu, tidak ada ruginya bila Anda terlebih dulu menyempatkan diri untuk mencicipi lagu-lagu HOF terdahulu, macam Bionic Woman, Y?Y?, dan Pathetic Life. Ketiga materi tersebut juga direkam secara live pada 2007. Jika tidak berlebihan, saya bisa bilang hasilnya sangatlah layak diapresiasi.

Jadi, untuk Live From Morgue, bila bertolak pada kualitas karya mereka sebelumnya, sepertinya tidak pula berlebihan kembali bila menyebut rilisan ini sebagai rilisan layak tunggu dan layak diunduh. Pastikan anda mengunduh mini album mereka secara gratis di livefrommorgue.tumblr.com.
Terima kasih.

Sumber: http://rebelzine.wordpress.com/2010/09/04/hairdresser-on-fire-segera-melepas-live-from-morgue/

2 comments:

  1. hello..
    terimakasih sekali, blog yang keren...

    from Hairdresser On Fire :)

    ReplyDelete
  2. Waduh, sang manager sendiri yg ngebales!
    Sama2...
    HOF! mantab beud!!!

    ReplyDelete